Pages

Showing posts with label TAREKAT TIJANIYAH. Show all posts
Showing posts with label TAREKAT TIJANIYAH. Show all posts

KESIMPULAN & DAFTAR PUSTAKA mkalah Tarekat Tijaniyah

1. LATAR BELAKANG
2. SEJARAH.
3. ISI AJARAN.
4. METODE-METODE.

5. KESIMPULAN & DAFTAR PUSTAKA

Syarat-syarat Kamaliyah adalah :
  1. memilih atau mencari moqaddam yang bersih yang memiliki otoritas ijazah yang benar dan yang memiliki sanad yang muttasil sampai kepada syaikh Ahmad Tijani
  2. menjaga dan melestarikan kewajiban solat lima waktu tepat pada waktunya, dan menjalankan semua perintah syaikh
  3. membaca basmalah setiap hendak melaksanakan solat
  4. menghormati dan mengagungkan para wali, karena mereka adalah kekasih Allah
Adapun syarat kamaliah yang berhubungan dengan wirid :
  1. duduk dan membaca wirid dengan sopan dan khusyuk
  2. menghadap kiblat ketika membaca wirid lazimah
  3. menghadirkan wajah syaikh (Ahmad Tijani) pada saat membaca wirid atau memperoleh kasih sayang darinya
  4. sangat ditekankan selalu berjmaah dalam wirid wazhifah dan hailalah jika ada kawanya yang lain, kecuali jika ada unsure syar’i

Syarat-syarat lazimah :
  1. tidak boleh berziarah kepada para wali lainnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, kecuali pada para nabi, sahabat, atau wali ikhwan ahli tarekat tijaniyah
  2. harus kosong dari (tidak memiliki) wirid-wirid yang berasal dari guru yng lain, jika ia sebelumnya telah memiliki wirid dari guru lain, maka wirid dari guru itu harus ditinggalkan
  3. tidak bleh melepaskan wirid tijaniyah setelah mengambil ijazah
Syarat lazimah yang berhubungan dengan wirid :
  1. bersih dari hadas
  2. bersih dari najis, secara keseluruhan badan dan pakaian
  3. menutup aurat
  4. tidak boleh sambil berbicara
  5. mengucapkan niat pada awal memulai wirid
  6. bersuci dengan air untuk membaca salawat
 
DAFTAR PUSTAKA
Dr, Hj, Mulyati Sri, MA, Mengenal dan memahami tarekat-tarekat mukhtabarah di Indonesia, PT kencana, Jakarta, 2004

METODE-METODE. (Tarekat Tijaniyah)

1. LATAR BELAKANG
2. SEJARAH.
3. ISI AJARAN.


4. METODE-METODE.

Semua ajaran tarekat, menurut syaikh al-sya’rani, harus berlandaskan berdasarkan kepada al-qur’an dan as-sunnah serta berasal dari metode suluk yang dipraktikan oleh rasulullah. Karena itu, unsure sanad (silsilah), urutan-urutan guru secara berkesinambungan sampai kepada rasulullah, sangat penting dalam tarekat. Setiap guru dalam sanad bertemu langsung dengan guru diatasnya dan seterusnya sampai sumber utama rasulullah.

Tarekat tijaniyah memiliki aturan-aturan yang harus ditegakkan oleh setiap pengamalan tarekat tersebut. Aturan-aturan dalam tarekat tijaniyah terdiri dari syarat-syarat dan tata karma (sopan santun) terhadap guru, sesame ikhwan, dan terhadap dirinya sendiri. Syarat-syarat dalam tarekat tijaniyah terbagi dlam dua bentuk : (1) syarat kamaliyah (syarat penyempurnaan) dan (2) syarat lazimah (syarat pokok). Syarat kamaliah yang berhubungan dengan wirid, syarat lazimah juga terbagi dalam dua bagian : 1 syarat lazimah yang berhubungan dengan pribadi murid, dan 2 syarat lazimah yang berhubungan dengan wirid, sedangkan tata karma yang harus ditegakkan oleh murid tijaniyah terdiri dari tiga bagian : 1 tata karma terhadap diri sendiri, 2 tata karma terhadapa syaikh, 3 tata karma terhadap ikhwan.


5. KESIMPULAN & DAFTAR PUSTAKA

ISI AJARAN (Tarekat Tijaniyah)

1. LATAR BELAKANG
2. SEJARAH.

3. ISI AJARAN.

Tarekat ini melarang murid-muridnya menunjungi makam Syeikh-syeikh terdekat dan tidak diperbolehkan merangkap menjadi anggota tarekat lainnya. Selain itu ungkapan Syeikh Ahmad yang mengatakan “Barang siapa yang mengamalan tarekat ini tidak akan masuk neraka selamanya, semua anak-anaknya, kedua orang tuanya serta istrinya turut bersama masuk surga. Mereka masuk surga secara bersamaaan tanpa melalui hisab dalam golongan pertama.

Kontroversi itu timbul di terima dipicu oleh klaim al-tijani sendiri sebagai khatim al-auliya, yang menerima talqin secara barzakhi langsung dari rosulullah, dan sikap ekslusif tarakat ini, yang melarang murid-muridnya mengunjungi barang syaikh-syaikh tarekat dan merangkap menjadi anggota tarekat lainnya, demikian pula kehadiran tarekat tijaniah di Indonesia menimbulkan pertentangan diantara para ahli tarekat di Indonesia.
Karena tidak ada criteria umum dan patokan baku tentang kemuktabaran tarekat yang disepakati oleh para ahli tarekat, maka sangat wajar terjadi perselisihan dalam menilai kemuktabaran tarekat, demikian halnya dalam kasus polemic kemuktabaran tarekat tijaniyah, secara umum, amalan zikir dalam tarekat tijaniyah terdiri dari tiga unsure pokok, yaitu istigfar, shalawat, dan haillah. Inti ajaran zikir dalam tarekat tijaniyah adalah sebagai upaya mengosongkan jiwa dari sifat-sifat lupa terhadapa Allah dan mengisinya secara terus menerus dengan menghadirkan jiwa kepada Allah melalui zikir terhadap zat, sifat-sifat, hokum-hukum perbuatan allah. Zikir tersebut mencakup dua bentuk, zikir bi al-lisan dan zikir bi al-qalb


4. METODE-METODE.
5. KESIMPULAN. & DAFTAR PUSTAKA

SEJARAH (Tarekat Tijaniyah)

1. LATAR BELAKANG

2. SEJARAH.

Pengakuan al- Tijani sebagai khatim al- auliya (penutup para wali) pengikut antara Nabi Muhammad dan semua wali, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, dan jaminan bagi para pengikutnya dengan derajat spiritual yang lebih tinggi serta dijanjikan masuk surga tanpa harus menyerahkan harta benda mereka pada Syeikh, sepanjag mereka mentaati ajaran islam sesuai dengan kemampuan mereka, menarik para pendatang kaya dan penjahat senior di Al-Jazair berbondong-bondong masuk Tarekat Tijaniyah.

Perkembagan yang cukup mencolok dalam Tarekat Tijaniyah ternyata dinilai dapat menyaingi otoritas Utsmaniyah, sehingga Al- Tijani dan para pengikutnya dipaksa meninggalkan Al- Jazair. Kemudian Al- Tijani pindah ke Fez tahun 1798, dan hidup disana hingga wafat. Perkembangan tarekat ini semakin pesat terutama setelah mendapat dukungan dari penguasa Maroko, Maulay Sulaiman, yang mempunyai kepentingan mendekati al-Tijani untuk menghadapi persaingan dengan zawiyah-zawiyah para syarif yang dinilai dapat mendorong kekuasaannya.

Kemudian pada abad ke-20, Tarekat ini berkembang di Negara Afrika lainnya seperti Senegal, Mauritania, Genia, Nigeria, dan Gambia, bahkan sampai masuk ke Arab Saudi dan Indonesia. Masuknya Tarekat Tijaniyah ke Indonesia tidak diketahui secara pasti. Tapi ada dua fenomena yang menunjukan awal gerakan Tarekat Tijaniyah, yaitu kehadiran Syaikh ‘Ali bin ‘Abd Allah al-tayyib, dan adanya pengajaran Tarekat Tijaniyah di pesantren Buntet, Cirebon.

Dengan kehadiran Syeikh ‘Ali ibn’Abd Allah at-Tayyib ke pulau Jawa, maka Tarekat Tijaniyah ini diperkirakan datang ke Indonesia pada awal abad ke-20 M atau antara 1918 dan 1921. Menurut Pijper, Tarekat Tijaniyah datang pertama kali ke Tasikmalaya untuk menyebarkan Tarekat Tijaniyah. Akan tetapi sebelum tahun 1928 Tarekat Tijaniyah belum mempunyai pengikut di pulau jawa. Pijper juga menjelaskan, pertama diketahui adanya gerakan Tarekat Tijaniyah ini di Cirebon.
Perkembangan Tarekat Tijaniyah di Cirebon berpusat di Pesantren Buntet di Desa Mertapada Kulon. Peasantren ini di pimpin oleh lima bersaudara. Dari Buntet, Tarekat Tijaniyah menyebar ke daerah-daerah di pulau Jawa secara meluas melalui murid-murid pesantren ini. Beberapa tahun kemudian, Tarekat ini menyebar ke daerah-daerah lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Tarekat Tijaniyah menimbulkan kontroversi sejak dari tempat kelahirannya, Al-Jazair dikalangan tokoh Tarekat lain. Hal in dipicu dengan pengakuan al- Tijani sendiri sebagai khatim al-auliya yang menerima talqin secara barzakhi langsung dari Rasulullah, dan sikap eksklusif Tarekat ini, yang melarang murid-muridnya mengunjungi Syeikh- syeikh Tarekat dan merangkap menjadi anggota Tarekat lainnya. Kontroversi itu timbul di terima dipicu oleh klaim al-Tijani sendiri sebagai khatim al-auliya, yang menerima talqin secara barzakhi langsung dari rosulullah, dan sikap ekslusif tarakat ini, yang melarang murid-muridnya mengunjungi barang syaikh-syaikh tarekat dan merangkap menjadi anggota tarekat lainnya, demikian pula kehadiran tarekat tijaniah di Indonesia menimbulkan pertentangan diantara para ahli tarekat di Indonesia.
Antara tahun 1928-1931 pertentangan terjadi dalam bentuk pamflet- pamflet yang berisikan tuduhan-tudduhan para penentang Tijaniyah. Sementara itu, tahun 1930 terjadi pula perselisihan antara pesantren Buntet denagan pesantren Benda Kerep yang anti Tijaniyah walaupun keduanya masih mempunyai hubungan keluarga. pada tahun yang sama, Syeikh Ahmad Ghanaim,gru dari Mesir datang ke Jawa Timur dan menyerng Tarekat Tijaniah dengan alasan bahwa penyebar Tijaniyah menjamin para pengikutnya masuk surga.
Beberapa hal yang menyebabkan polemik dalam tarekat Tijaniyah ini adalah sebagai berikut:
1.Talqin Syeikh Ahmad Tijani.
2.Kedudukan Syeikh Ahmad Tijani sebagai wali terakhir.
3.Keistimewaan Tijaniyah dan pengamalnya yang bila mengamalkan tarekat ini tidak akan masuk neraka selamanya, semua anak-anaknya, kedua orang tua dan istrinya turut bersama masuk surga.
Polemik tentang Tarekat Tijaniyah ini pernah di bahas dalam muktamar NU dan seminar Tarekat Tijaniyah di Cirebon. NU pernah membahas Tarekat Tijaniyah dalam dua kali mukhtamar, mukhtamar III dan VI. Kedua mukhtamar itu melahirkan beberapa keputusan,antara lain : 1.Tarekat Tijaniyah memiliki sanad Muttashil pada Rasulullah bersama Ba’iah barzakhiyahnya. 2. Taekat Tijaniyah dianggap sebagai Tarekat yang sah dalam islam. 3. Semua Tarekat mukhtabarah tidak ada perbedaan antara satu sama lain.

3. ISI AJARAN.
4. METODE-METODE.
5. KESIMPULAN & DAFTAR PUSTAKA

(makalah) TAREKAT TIJANIYAH

TAREKAT TIJANIYAH
Tarekat Eksklusif dan Kontroversional

Pendahuluan
1. LATAR BELAKANG.
Tarerkat Tijaniyah didirikan oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Tijani (150-1230/1815) beliau lahir di Ain Madi, Aljazair Selatan, dan meninggal dalam usia 80 tahun di Fez, Maroko. Menurut pengakuan Syaikh Ahmad Tijani memiliki nasab sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
Kelahiran Tarekat Tijaniyah berkaitan dengan kedudukan Syeikh Ahmad Tijani sebagai wali Al-quthb Al-a’zham. Dan kaum Tijaniyah meyakini derajat kewalian Ahmad Tijani dicapai melalui proses yang panjang. Beliau nengunjungi para wali besar diberbagai negara seperti Tunis, Mekah, Madinah, Maroko, Fez dan Abi Samgum. Salah satu tujuan beliau melakukan kunjungan tersebut adalah untuk mencari ilmu-ilmu kewalian secara lebih luas, sehingga beliau berhasil mencapai derajat kewalian yang lebih tinggi.
Menurut pengakuan Syeikh Ahmad, beberapa wali besar yang dikunjunginya mengakui dan menyaksikan kebesaran derajat kewalian Syeikh Ahmad Tijani. Wali Syeikh Abu al- Abbas Ahmad bin ‘Abd Allah al- Hindi tahun 1187 H di Mekah mengatakan kepada Ahmad Tijani, ”Engkau pewaris ilmuku, derajatku, dan cahayaku”. Proses panjang pengalaman ilmu-ilmu kewalian dan kunjungan Syeikh Ahmad Tijani pada para pembesar wali, dengan kesaksian-kesaksiannya, berakhir di daerah tempat wali besar Abi Samgun.

2. SEJARAH.
3. ISI AJARAN.
4. METODE-METODE.
5. KESIMPULAN & DAFTAR PUSTAKA