Pages

Showing posts with label Pemikiran Islam. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran Islam. Show all posts

Kesimpulan makalah PEMIKIRAN ISLAM TRADISIONAL DAN KRITIK ATAS DUNIA MODERN

Di dunia ini tidak banyak orang yang memilki kepedulian begitu tinggi terhadap agamanya sebagaimana Nasr. Sayyed Hossein Nasr, adalah orang yang telah sekian lama hidup dan akrab dengan dunia modern. Semua orang tahu bahwa dunia modern yang ditandai dengan corak pemikiran materialis-kapitalistik telah banyak menggelapkan hati nurani manusia, sehingga banyak manusia yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, bahkan nilai-nilai ketuhanannya. Orang modern cenderung mengganggap bahwa apa yang telah mereka lakukan selama ini adalah semata sebagai puncak dari keberhasilan mereka dalam mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya. Mereka lupa bahwa ada Tuhan yang telah memberikan dan menjadi penyebab utama atas apa mereka anggap sebagai suatu keberhasilan.

Berbeda halnya dengan Sayyed Hossen Nasr, yang tetap istiqamah dalam pendiriannya, dan tidak tertipu oleh kemajuan semu peradaban modern. Hidup ditengah kemajuan semu dunia modern yang telah banyak meracuni pikiran umat manusia membuat Nasr semakin sadar bahwa apa yang menjadi realitas yang selama ini dilihatnya harus segera diluruskan, dan terutama ia harus membentengi umat Islam sebelum racun peradaban barat meracuni umat Islam.
Nasr kemudian menggelorakan semangat pembaharuan (tajdidd), yaitu seruan agar umat Islam tidak tertipu oleh peradaban barat, dan kembali pada nilai-nilai tradisi Islam, yang dilandasi oleh Al-Qur’an dan al-Hadits. Nasr berkeyakinan bahwa hanya jalan itulah yang mampu mengembalikan jati diri manusia terutama umat Islam untuk menyadari hakikat keberadaan dirinya. Semangat pembaruan atau tajdidd ini kemudian kita yang kenal dalam bahasa Nasr sebagai Islam tradisi.
Islam tradisi tidak berarti menutup diri terhadap kemajuan, malahan Islam merupakan agama yang menyuruh umatnya untuk maju dan mengelola segala potensi yang telah diberikan Tuhan untuk manusia. Karena manusia adalah khalifah Tuhan dimuka bumi. Namun manusia juga harus menyadari hakekat keberadaan dirinya di muka bumi ini yaitu untuk beribadah dan menghambakan dirinya pada Tuhan. Karena hakekat dan tujuan hidup manusia adalah untuk Tuhan, jadi segala apa yang manusia lakukan dam manusia dapatkan seharusnya hal itu bisa lebih menambah rasa keimanan pada Tuhan. Kita patut mengacungkan jempol untuk Nasr atas gagasannya yang cukup brilian ini. karena umat Islam tidak akan menjadi umat yang beruntung ketika ia meninggalkan atau tercerabut dari tradisinya. Ketika orang-orang barat meninggalkan tradisinya, maka mereka berhasil mencapai kemajuan. Namun ketika umat Ilam meninggalkan tradisinya, maka yang akan didapatkan hanyalah kenistaan.


Daftar Pustaka
Muhammad, Afif.
2004 Dari Teologi Ke Ideologi, Pena Merah, Bandung.
Qardhowi, Yusuf.
1996 Epistemologi Al-Quran, Risalah Gusti, Surabaya.
Qardhowi, Yusuf.
1997 Keprihatinan Muslim Modern, Dunia Ilmu, Surabaya.
Munir,A. dan Sudarsono.
1994 Aliran Modern Dalam Islam, Rineka Cipta, Jakarta.
Nasr, Sayyed Hossein.
1981 Islam Dalam Cita dan Fakta, Leppenas, Jakarta.
Nasr, Sayyed Hossein.
1987 Islam Tradisi Ditengah Kancah Dunia Modern, Pustaka, Bandung.
Nasr, Sayyed Hossein.
1995 Menjelajahi Dunia Modern, Mizan, Bandung
Nasr, Sayyed Hossein.
1982 Islam Dan Nestapa Dunia manusia Modern, Pustaka, Bandung.
Nasr, Sayyed Hossein.
1997. Intelektualisme Islam, Pustaka Pelajar, Yogya.
Saefullah, Chotib.
1995, Pemikiran Sayyed Hossein Nasr Tentang Efistemologi, Sebuah Tesis
Rahardjo, Dawam.
1985. Insan Kamil, Grafiti Press, Jakarta

ALAM PEMIKIRAN ISLAM TRADISIONAL DAN KRITIK ATAS DUNIA MODERN

BAB I
PENDAHULUAN
Seluruh agama yang ada dimuka bumi ini pasti menghendaki agar umatnya dapat berpegang teguh pada tradisi agamanya. Namun, tidak berarti bahwa doktrin ini harus ditafsirkan sebagai pengkrangkengan agama terhadap berbagai inovasi umat manusia untuk menciptakan kemajuan. Setiap agama pasti menghendaki agar umatnya bisa maju dan bisa memberdayakan segala potensi yang dimilikinya, namun tidak dengan kemudian tercerabut dari nilai-nilai sakral yang telah digariskan dalam ajaran agamanya.

Peradaban barat modern merupakan perdaban yang secara materi telah berhasil membawa umat manusia ketingkat kemajuan dan keberhasilan secara materi. Peradaban modern telah berhasil membuktikan eksistensi manusia sebagai makhluk lebih unggul ketimbang makhluk manapun di bumi ini. Namun, seperti apa yang telah dikatakan oleh seorang filosof dari India yang ditujukan kepada salah seorang pemikir barat;” Sudah cukup baik, kalian terbang tinggi di udara bagai burung, kalian telah menyelam ke dasar laut seperti ikan. Namun kalian sama sekali tidak berjalan baik di muka bumi seperti layaknya manusia !”. Pernyataan ini memang banyak benarnya karena dalam banyak sisi, peradaban barat telah menorehkan berbagai keberhasilan dan kemajuan. Namun, berbagai kemajuan tersebut yang dicapai ternyata tidak cukup untuk lebih memposisikan manusia sebagai manusia. Manusia malahan seperti kehilangan identitas kemanusiaanya dan kini nilai manusia sudah dalam posisi yang sudah sangat “menyedihkan” karena kini manusia bisa diatur oleh seperangkat peralatan mekanik yang diciptakannya sendiri.

Peradaban modern juga semakin menggelapkan hati manusia dan semakin menempatkan posisi manusia dalam kemajuan semu belaka. Apa yang telah menjadi keberhasilan manusia modern tidak lantas kemudian semakin mendekatkan manusia pada Tuhan yang secara hakikat ada dibelakang segala keberhasilan umat manusia, kemajuan peradaban modern justru telah menggiring manusia pada kesombongan. Dan puncak dari kesombongan itu adalah klaim bahwa manusialah yang telah menjadikan segala keberhasilan yang selama ini dicapai, sementara Tuhan tidak memiliki andil apapun. Malahan banyak diantara mereka yang kemudian karena kesombongan dan karena tertipu paham rasionalisme dan materialisme berkesimpulan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang absurd.

Keyakinan atau aqidah adalah unsur yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Ia merupakan referensi bagi suatu tindakan, dalam arti bahwa sebelum seseorang melakukan suatu perbuatan, dia hampir selalu menimbang dengan keyakinan yang dimilikinya. Keyakinan ini pula yang kemudian melandasi gerak perjuangan sayyed Hossein Nasr. Keyakinannya yang kuat bahwa apa yang menjadi landasan kemajuan bukanlah semata harus berlandaskan nilai-nilai material, telah mendorong ia untuk banyak mengkritik peradaban barat yang ia nilai hanya sebagai peradaban yang semu. Malahan Nasr merasa khawatir terhadap semakin menonjolnya kecenderungan umat Islam yang lebih mengiblat terhadap peradaban barat dan telah melupakan akar budayanya.

Nasr merasa sangat khawatir kalau hal tersebut dibiarkan maka bisa meracuni pemikiran umat Islam. Maka Nasr merasa perlu untuk menyadarkan umat Islam untuk kembali pada nilai-nilai luhur tradisi Islam yang telah terbukti berhasil menjadi mercusuar kemajuan umat Islam dalam berbagai bidang. Nasr kemudian banyak menggelorakan semangat untuk kembali pada nilai-nilai tradisi Islam, atau apa yang sering ia sebut sebagai Islam tradisi. Islam tradisi merupakn perwujudan kehidupan beragama yang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Qur’an dan Hadit’s, tanpa mengeliminasi semangat untuk mengejar kemajuan dunia. Bila peradaban barat bisa melahirkan banyak orientalis, dan sejumlah banyak ilmuan, mengapa Islam tidak bisa melahirkan lebih banyak lagi oksidentalisme, dan ilmuan terkemuka agar bisa menandingi atau bahkan mengungguli peradaban barat.

Semangat pembaharuan yang digelorakan ini kemudian kita lebih mengenal sebagai tajdidd, yaitu semangat perubahan tanpa merubah nilai-nilai tradisi yang sudah sedemikian mapan. Dengan semangat pembaharuan ini diharapkan umat Islam bisa lebih bersaing dengan perdaban barat, tanpa harus melupakan atau menghilangkan nilai-nilai transenden. Karena, bila peradaban barat meninggalkan tradisinya maka mereka memiliki kemungkinan untuk maju secara lebih pesat secara materi. Namun, bila umat Islam meninggalkan tradisi Islam untuk mengejar kehidupan materi, maka yang akan didapatkan adalah kehancuran dan kenestapaan.

Pembaruan (Tajdid) Ke Arah Islam Tradisi

(Gagasan sayyed Hossein Nasser untuk kembali ke konsep Islam Tradisi)
Keyakinan atau aqidah adalah unsur yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Ia merupakan referensi bagi suatu tindakan, dalam arti bahwa sebelum seseorang melakukan suatu perbuatan, dia selalu menimbangnya dengan keyakinan yang dimilikinya. Sebelum bertindak, seseorang yang memiliki keyakinan agama, misalnya, pasti terlebih dahulu menilai apakah perbuatan yang akan dilakukannya sesuai dengan keyakinan agamanya atau kah tidak. Jika sesuai, ia akan melakukannya dengan sebaik-baiknya, sebab dia yakin bahwa perbuatannya bahwa perbuatannyatidak hanya memiliki dampak bagi kehidupan masa kininya, tetapi juga pada kehidupan akhiratnya kelak. Akan tetapi, jika perbuatan itu bertentangan dengsn keyakinannya, maka kemungkinan besar dia tidak akan melakukannya. Kalau pun karena satu dan lain alasan kemudian dia melakukannya juga, dia pasti akan merasa bersalah dan berdosa.*14 Barangkali semua dorongan itulah yang menyebabkan timbulnya dorongan yang kuat bagi Nasr untuk tetap menggelorakan pembaharuan (tajdidd) kearah bangkitnya kembali Islam Tradisional yang diyakininya merupakan solusi terbaik bagi umat Islam untuk mengangkat kembali Islam yang telah “terinjak” dibawah peradaban modern barat.

Menuru Yusuf Qardhowi tajdid diartikan “pembaruan, modernisasi” yakni upaya mengembalikan pemahaman agama kepada kondisi semula sebagaimana masa nabi. Ini bukan berarti hukum agama harus persis seperti yang terjadi pada waktu itu, melainkan melahirkan keputusan hukum untuk masa sekarang sejalan dengan maksud syar’i dengan membersihkan dari unsur-unsur bid’ah, khurafat dan pikiran-pikiran asing. *15  lebih lanjut Yusuf Qardhowi mengatakan bahwa kita harus mengembalikan kemurnian Islam menuju aqidah, kemurnian tauhid, menuju ibadah, kemurnian misi menuju akhlak dan moralitas Islami dan semangat keIslaman.*16
Semangat pembaharuan (tajdidd) ini merupakan cita-cita Nasr untuk mengembalikan Islam pada kedudukannya semula yang sekarang ini sudah banyak terkontaminasi modernisasi barat yang sekuler, dan meninggalkan nilai-nilai Illahiah dan insaniah. Nasr kemudian mengindentikan tajdidd dengan renaisans yang menurut pengertian yang sebenarnya. Suatu renaisanas dalam Islam berkaitan dengan tajdid, atau pembaruan, yang dalam konteks tradisional diidentikan dengan fungsi dari tokoh pembaruan (mujaddid)*17 tersebut. Tetapi seorang mujaddid selalu merupakan perwujudan dari prinsip-prisip Islam yang hendak ditegakan dan diterapkan kembali di dalam situasi tertentu. Jadi, seorang mujaddid berbeda dengan seorang “tokoh reformasi” menurut pengertian modernnya yang disebut muslih. Bahkan seorang mujaddid berbeda sekali dengan seorang tokoh reformasi karena ia bersedia mengorbankan sebuah aspek tradisi agama, demi faktor ketergantungan tertentu yang paling ditonjolkan mereka sebagai mereka sebagai hal yang sangat mempesona, karena dikatakan kondisi zaman yang tak dapat dihindari atau ditolak.*18
Pembaruan yang dilakukan Nasr adalah mengembalikan manusia pada asalnya sebagaimana telah dilakukan manusia dalam perjanjian suci dengan Tuhannya, dari kealpaan tentang dirinya, sehingga membuat dirinya jatuh kedalam belenggu karya rasionalitasnya yang meniadakan Tuhan. Manusia menurut Nasr, pada awalnya adalah makhluk suci, namun karena penolakannya kepada Tuhan melalui tradisi Ilmiah telah membuat dirinya tak mengenal siapakah realitas sesungguhnya dia dihadapan Tuhannya.
Nasr berpendapat bahwa pembaruan tidak bisa hanya dilakukan dari sisi materi saja, tetapi juga yang paling dasar adalah melakukan perubahan dari dalam dirinya sendiri, untuk kemudian ia melakuan pembaruan terhadap realitas yang ada disekitarnya.
Dewasa ini seorang mujaddid tidak mungkin dilakukan oleh orang yang pikirannya telah dicuci oleh konsep-konsep modern, tetapi tidak pula bisa dilakukan oleh orang yang mengerti seluk beluk dunia modern. Dalam hal ini seorang Nasr merupakan figur yang sangat relevan kita ia menggembor-gemborkan tentang tajdidd. Nasr merupakan tokoh yang memiliki wawasan yang sangat luas tentang seluk-beluk peradaban modern dengan segala implikasi-implikasi yang bisa ditimbulkannya. Namun demikian, keakraban Nasr dengan alam modern tidak lantas menyebabkan ia tercerabut dari akar peradaban Islam, malah ia lebih menancapkan lagi dimana posisi Islam seharusnya ditempatkan. Nasr telah berhasil menciptakan batasan-batasan antara Islam dan barat, tradisi dan modernisasi, dan dengan itu semua orang bisa memilih posisi dimana ia akan mengambil tempat.
___________________________
*14 Afif Muhammad, Dari Teologi Ke Ideologi, 2004, hal 1
*15 Munir.A, dan Sudarsono, Aliran Modern dalam Islam, 1994, Hal 8
*16 Yusuf Qardhawi, Keprihatinan Muslim Modern, 1995, hal 47
*17 op.cit, 1983, hal 206
*18 Sayyed Hossen Nasr, op.cit, 1983, hal 12&206


Sayyed Hossein Nasr Dan Gagasan Islam Tradisional

BAB I PENDAHULUAN
BAB II KRITIK SAYYED HOSEIN NASR TERHADAP PERADABAN MODERN

BAB III
SAYYED HOSSEIN NASR DAN GAGASAN ISLAM TRADISIONAL (TRADISIONALISME)
Dua abad lalu, apabila seorang Barat, seorang Konfucian Cina atau seorang Hindu dari India menelaah Islam, niscaya yang mereka jumpai adalah tradisi Islam yang tunggal. Orang yang seperti itu mungkin saja akan menemukan sejumlah madzhab pemikiran, interpretasi-interpretasi hukum, teologi dan bahkan sekte-sekte yang terpisah dari tubuh utama ummat. Begitu pula orang tersebut akan menemukan ortodoksi dan heterodoksi dalam akidah dan juga praktek. Tetapi dari semua yang telah diamatinya, baik dari ucapan-ucapan esoterik seorang suci sufi hingga keputusan-keputusan yuridikal seorang ‘alim’, maupun dari pandangan teologikal ketat seorang doktor aliran hambali dari Damaskus hingga pernyataan-pernyataan berat Syiisme yang agak ekstrem, dalam tingkat tertentu merupakan bagian dari tradisi Islam: yakni dari pohon tunggal wahyu Illahi yang akar-akarnya adalah Al-Qur;an dan Hadits, sedang batang dan cabang-cabangnya membentuk tubuh tradisi yang tumbuh dari akar-akar itu selama lebih dari empat belas abad dihampir setiap penjuru dunia.*8

Namun sebelum kita membahas lebih mendalam bahasan ini, alangkah baiknya apabila kita terlebih dahulu mengetahui apa arti dari tradisi. Tradisi bisa berarti ad-din dalam pengertian yang seluas-luasnya, yang mencakup semua aspek agama dan percabangannya; bisa pula disebut as-sunnah, yaitu apa yang sudah menjadi tradisi sebagaimana kata ini umumnya dipahami; bisa juga diartikan as-silsilah, yaitu rantai yang mengkaitkan setiap periode, episode atau tahap kehidupan dan pemikiran didunia tradisional kepada sumber, seperti tampak gamblang dalam sufisme. Karenanya tradisi mirip sebuah pohon, akar-akarnya tertanam melalui wahyu didalam sifat illahi dan darinya tumbuh batang dan cabang-cabang sepanjang zaman. Dijantung pohon tradisi itu berdiam agama, dan saripatinya terdiri dari barakah yang karena bersumber dari wahyu, memungkinkan pohon tersebut terus hidup. Tradisi menyiratkan kebenaran yang kudus, yang langgeng, yang tetap, kebijaksaan yang abadi, serta penerapan bersinambung prinsip-prinsp yang langgeng terhadap berbagai situasi ruang dan waktu.*9

Kenapa tradisionalis-tradisionalis bersikeras untuk mengukuhkan pertentangan antara tradisi dan modernisme? Itu tidak lain karena sifat modernisme itu sendiri telah menimbulkan citra yang sama di bidang religius dan metafisika yaitu menampakan yang setengah-benar sebagai kebenaran. Islam tradisional memandang manusia bukan sebagai makhluk yang terpenjara oleh akal dalam arti rasio semata sebagaimana yang dipahami pada zaman renaisans, tetapi sebagai makhluk yang suci, yang tak lain adalah manusia tradisional. Manusia suci, menurut nasr, hidup didunia yang mempunyai asal maupun pusat. Dia hidup dalam kesadaran penuh sejak asal yang mengandung kesempurnaannya sendiri dan berusaha untuk menyamai, memiliki kembali, dan mentransmisikan kesucian awal dan keutuhannya.*10

Sejauh doktrin tradisional tentang manusia diperhatikan, hal itu didasarkan pada konsep manusia primordial sebagai sumber kemanusiaan, refleksi total dan lengkap mengenai Illahi dan realitas pola dasar yang mengandung posibilitas-posibilitas eksistensi kosmik itu sendiri. Signifikasi Islam tradisional dapat pula dipahami dalam sinaran sikapnya terhadap fase Islam. Islam Tradisional menerima Qur’an sebagai kalam Tuhan baik kandungan maupun bentuknya: sebagai persoalan duniawi abadi kalam Tuhan, yang tak-tercipta dan tanpa asal-usul temporal. Islam tradisional juga menerima komentar-komentar tradisional atas Qur’an yang berkisar dari komentar-komentar yang linguistik dan historikal hingga yang sapiental dan metafisikal. Dalam kenyataan, Islam tradisional menginterpretasikan bacaan suci tersebut bukan berdasarkan makna literal dan ekseternal kata-kata melainkan berdasarkan tradisi hermeneutika.*11
Sifat primordial dan paripurna tentang manusia yang Islam menyebutnya “Manusia sempurna”(insan kamil), dan doktrin-doktrin sapiensial kuno Gracco-Aleksandrian juga menyinggung dalam istilah yang hampir sama, kecuali aspek-aspek Abrahamik dan Islamik yang secara khusus tidak muncul dalam sumber-sumber Neo-platonik dan hermetik, yang menyatakan bahwa realitas manusiawi mempunyai tiga aspek fundamental. Manusia universal, yang dalam realitasnya direalisasikan hanya oleh nabi-nabi dan pujangga-pujangga besar, karena hanya merekalah manusia yang dalam pengertian yang sesungguhnya di dunia, pertama adalah dari realitas pola dasar alam semesta, kedua instrumen atas makna dimana wahyu turun kedunia, dan ketiga, model sempurna untuk kehidupan spiritual dan pemancar pengetahuan esoterik mutakhir. Dengan kebajikan realitas manusia universal, manusia terestrial dapat memperoleh akses pewahyuan dan tradisi, sehingga tersucikan. Akhirnya, melalui realitas yang tak lain daripada aktualisasi realitas manusia itu sendiri, manusia mampu mengikuti jalan sempurna yang akhirnya memungkinkan memperoleh pengetahuan suci, dan akhirnya menjadi dirinya sendiri secara sempurna. Perkataan Oracle Delphic “Mengetahui dirimu sendiri”, atau dari nabi Islam, “ Dia yang mengetahui dirinya sendiri mengetahui Tuhannya”, adalah benar, bukan karena manusia sebagai ciptaan di bumi sebagai ukuran segala sesuatu, tetapi karena manusia adalah dirinya sendiri yang merupakan refleksi realitas pola dasar, yang menjadi ukuran segala sesuatu.*12 Fungsi kesalehan manusia selalu tidak dapat dipisahkan dari realitas, dari apa dia sesungguhnya. inilah mengapa ajaran tradisional menggambarkan kebahagiaan manusia di dalam kesadaran dan kehidupannya menurut alam pontifikalnya, seperti jembatan antar surga dan bumi. Hukum-hukum keagamaan dan ritus-ritusnya mempunyai fungsi-fungsi kosmik, dan didasarkan tidak mungkin baginya menghindari tanggung jawab sebagai makhluk yang hidup dibumi, tetapi bukan hanya keduniawian, sebagai penghubung antara surga dan bumi, dari bentukan spiritual maupun material, diciptakan untuk mereflesikan sinar surga tertinggi Tuhan di dunia, menjadi harmoni di dunia melalui dispensasi dari penurunan dan pelaksanaan bentuk kehidupan yang dihubungkan dengan realitas batinnya sebagaimana ditentukan oleh tradisi.
Mengenai metafisika, Nasr berpendapat bahwa metafisika merupakan pengetahuan yang real. Ia menjelaskan asal-usul dan tujuan semua realitas, tentang yang absolut dan relatif . oleh karena itu, Nasr mengusulkan jika manusia ingin tinggal didunia lebih lama, prisip-prinsip metafisika harus dihidupkan kembali.*13 Pandangan tentang realitas tersebut melihat manusia tradisional melihat citra illahi dalam bayangnya sendiri. Ia memahami kemungkinan-kemungkinan Illahiah dalam kodratnya memungkinkan mengatasi berbagai keterbatasannya, pada akhirnya, ia mentransendensi dirinya melalui pencarian pengalaman spiritual. Sedangkan manusia modern hanya melihatnya cirinya ketika ia menengok ke dalam. Mata egonya hanya melihat citra manusia, suatu bentuk manusia murni.
________________________
*8 sayyed hossein nasser, Islam Tradisi Ditengah Kancah Dunia Modern,1987, hal 1
*9 ibid, hal 3
*10 sayyed hussein nasser, Intelektual Islam, 1997, hal 185
*11 Sayyed Hossein Nasser, op.cit, 1987, hal 4
*12 Sayyed Hossei Nasser, op.cit, 1997, hal 192
*13 Chatib Saefullah, Pemikiran Sayyed Hossein Nassr Tentang Epistemologi, 1995, hal 75

Kritik Sayyed Hosein Nasr Terhadap Peradaban Modern

KRITIK SAYYED HOSEIN NASR TERHADAP PERADABAN MODERN
Hampir tidak ada lagi pokok perdebatan yang memancing gejolak rasa dan perdebatan dikalangan umat Islam dewasa ini selain relasi antara pemikiran Islam dengan dunia barat. Disadari atau tidak peradaban barat telah menggerogoti konstruk pemikiran Islam sehingga barangkali sudah lebih dari dua abad umat Islam hidup dalam bayang-bayang peradaban barat, banyak pihak yang merasa khawatir akan tercerabutnya nilai-nilai Islam itu sendiri dari pemeluknya.

Peradaban barat telah menimbulkan multi krisis, baik krisis moral, spiritual, dan krisis kebudayaan yang dimungkinkan lebih disebabkan corak peradaban modern industrial yang dipercepat oleh globalisasi yang merupakan rangkaian dari kemajuan barat pasca renaisans yang membawa nilai-nilai antroposentrisme dan humanisme sekuler. Paham yang serba mendewakan manusia dan kehidupan dunia yang sifatnya temporal. Hal ini secara faktual telah melahirkan tercerabutnya kebermaknaan dalam hidup manusia, akibat hilangnya nilai-nilai transendental agama dari kehidupan manusia. Pada antroposentrisme dan humanisme sekuler yang mendewakan kedigdayaan manusia, dan relatifitas itu akhirnya telah melahirkan krisis kemanusiaan yang sudah semakin mengkhawatirkan dalam kehidupan peradaban manusia sedunia. Manusia yang sebelumnya diposisikan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya menjadi subordinasi dalam tekno- struktur, menjadi bagian dari benda-benda (hasil teknologi) yang diciptakannya sendiri, sehingga manusia teralienasi dari identitasnya sebagai makhluk Tuhan yang merdeka dan memiliki fitrah hati nurani.

Satu hal hal yang dianggap sebagai kegagalan peradaban modern yang paling fatal ialah percobaan manusia untuk hidup dan menapikan keberadaan Tuhan dan agama. Suatu hal yang tentu sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang dalam hatinya memiliki potensi ilahiyah, dan pasti akan selalu membutuhkan sesuatu yang bersifat transenden yaitu Tuhan. Hal ini mengingatkan kita pada penegasan Al-Qur’an dalam surat Thaha ayat 124:
Barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya kehidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Seperti ungkapan Peter L Berger “Nilai-nilai supernatural telah hilang dari peradaban barat modern”. Lenyapnya nilai nilai tersebut dapat diungkapkan dalam suatu rumusan yang agak dramatis sebagai ‘Tuhan telah mati’ atau berakhirnya zaman Kristus”*1 Inilah lanjutan dari sekularisasi kesadaran. Dengan hilangnya batasan-batasan yang dianggap dan diyakini sebagai sakral dan absolut, manusia modern lalu melingkar-lingkar dalam dunia yang serba relatif, terutama sistem nilai dan moralitas yang dibangunnya.

Proses sekularisasi melangkah lebih jauh pada abad ke-19 bahkan memasuki wilayah Teologi, yang sampai saat itu masih secara alamiah bersatu dengan kerangka agama, dan kemudian jatuh dibawah kekuasaan sekularisme. Pada wakti itu ideologi agnostik dan ateistik mulai mengancam teologi itu sendiri sementara persfektif teologi tradisional mulai mundur dari satu wilayah yang seharusnya didudukinya. Yakni wilayah pemikiran agama yang murni. Disini penting disebutkan bahwa teologi yang dipahami dalam konteks barat adalah hal yang utama bagi Kristen, berbeda dengan Islam yang menempatkan teologi tidak sepenting hukum Islam. Dalam Kristen, semua pemikiran yang serius berkaitan dengan teologi dan karenanya kemunduran teologi Kristen pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dari berbagai wilayah pemikiran juga berarti kemunduran agama di barat dari kehidupan sehari-hari dan pemikiran manusia barat. Kecenderungan ini mencapai tingkat seperti itu pada abad ke-20 ketika sebagian besar teologi itu, secara berangsur-angsur mengalami proses sekularisasi.*2
Manusia tentu saja tidak bisa mengangkat dirinya secara spiritual dengan begitu saja. Ia harus dibangunkan dari mimpi buruknya oleh seseorang yang telah sadar. Karena itu manusia memerlukan petunjuk Tuhan dan harus mengikuti petunjuk itu, agar dia dapat menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya dan agar ia mampu mengatasi rintangan dalam menggunakan akalnya. Nasr berkeyakinan bahwa akal dapat mendekatkan manusia kepada Tuhan apabila akal itu sehat dan utuh (salim), dan hanya petunjuk Tuhan yang menjadi bukti yang paling meyakinkan dari pengetahuan-Nya yang dapat menjamin keutuhan dan kesehatan akal, sehingga akal dapat berfungsi dengan baik dan tidak terbutakan oleh nafsu keduniawian. Setiap orang membutuhkan petunjuk Tuhan dan nabi yang membawa petunjuk itu, kecuali ia sendiri terpilih, atau menjadi orang suci yang merupakan pengecualian.*3
Sebagai manusia yang telah dibimbing oleh agama, kita tidak seharusnya mencontoh apa yang menjadi sisi negatif dari medernisasi di dunia barat, meskipun peranan modern itu lahir dari sebuah keunggulan metodologi sains. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mengusahakan agar bagaimana iman, ilmu, dan teknologi senantiasa selalu berjalan beriringan. Yang menjadi tugas kita sekarang adalah bagaimana agar kita dapat mengangkat kembali dan mengembalikan posisi kemanusiaan dalam tempat semula yang lebih baik. Seperti yang telah dikatakan Yusuf Qardhawi, manusia barat telah membuka tabir pengetahuan yang cukuyp banyak. Tetapi mereka tidak mampu menguak misteri dibalik wujudnya. Mereka telah mengetahui pengetahuan fisik, tetapi tidak dapat menundukan nafsunya. Mereka telah mendapatkan nuklir, tetapi gagal mendapatkan ideologi dan spiritnya. Sangat indah apa yang telah dikatakan filosof India ditunjukan kepada salah seorang pemikir Barat, “Sudah cukup baik, kalian terbang tinggi di udara bagai burug. Kalian telah menyelam ke dasar laut seperti ikan. Namun kalian sama sekali tidak berjalan baik di muka bumi ini seperti layaknya manusia.*4 Mungkin inilah yang bisa kita sebut sebagai krisis identitas. Peradaban barat yang maju dari segi materi, ternyata telah gagal memahami manusia sebagai makhluk yang multi dimensia. Manusia bukan hanya sebatas makhluk yang mengandalkan kemampuan indera dan akal, tetapi lebih dari itu ia adalah makhluk Tuhan yang mengemban amanat dari Tuhannya untuk menjadi pemimpin dan pengelola segala potensi yang ada di dunia ini, untuk kemudian dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan.
Manusia modern harus kembali diingatkan dan diarahkan kepada kesucian, Tuhan yang merupakan asal dan sekaligus pusat dari segala sesuatu dan kepadanyalah manusia kembali. Tentulah sudah meruypakan suatu konsekuensi apabila manusia harus mengabdi pada Tuhan. Pemisahan manusia dari kesempurnaan aslinya dan seluruh nilai-nilai ambivalen yang dimilikinya tentu hanya akan menggiring manusia pada apa yang dikatakan Kristen “kejatuhan”, tidak ada fungsi kekuatan-kekuatan ini yang semestinya dan secara otomatis menurut sifat teomorfis manusia. Manusia berada dalam belenggu kebebasan yang semu, sifat ketuhanan (theomorfis) yang seharusnya ada pada peradaban modern maupun renaisans. Kepada manusia-manusia yang seperti inilah tradisi agama seharusnya disampaikan dan manusia-manusia batiniah inilah yang hendak dibebaskan treadisi dari belenggu ego dan keadaan yang mencekikm karena sebuah aspeknya dilupakan dan dianggap sama sekali eksternal. Hanya tradisi yang dapat membebaskan mereka, bukan agama-agama palsu yang pada saat ini sedang bermunculan.*5
Sebagian orang Barat sebenarnya telah menyadari bahwa ada penyakit dalam peradaban mereka yang padahal sudah sangat modern. Mereka melihat bahwa peradabannya telah menghanguskan fitrah manusia, menghadang ketentraman jiwa, dan meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Diantara mereka adalah Bernard Shaw lewat dramanya, Spengler, lewat bukunya Runtuhnya barat, Toynbee, lewat buku-buku sejarahnya, Alexis Carell dengan bukunya yang terkenal Al- Insaan dzaalikal Majhuul (Unknown Man/ Misteri Manusia), dan yang lain. Hanya saja mereka merupakan pribadi yang sebelumnya telah banyak diracuni penyakit, dan setelah itu mereka tidak tahu untuk mengobatinya.*6
Obat itu sebenarnya ada pada kita, bukan orang diluar kita. Obat itu ada pada peradaban kita uyang Illahiyah., Insaniyah, dan Universal. Suatu peradaban haq, bajik, seimbang serta adil. Peradaban yang mendudukan segalanya pada porsi yang sebenarnya. Tidak menyimpang dari posisinya. Suatu tata peradaban yang memadukan mesjid dan pabrik, memadukan agama dan ilmu, akal dan hati, materi dan ruh, serta menyelaraskan hubungan waktu kemarin hari ini dan esok, idealisme dan realisme.
___________________________
*1 Komarudin Hidayat, 1985: hal 189
*2 Sayyed Hossein Nasr, Menjelajahi Dunia Modern, 1995, hal 149
*3 Sayyed Hossein Nasr, Islam dalam Cita dan Fakta, 1981, hal 7-8
*4 Yusuf Qardhawi, Epistemologi AL-Quran, 1996, hal 113
*5 Sayyed Hossein Nassr, Islam dan Nestapa Dunia Manusia Modern, 1983, hal 83
*6 Yusuf Al-Qardhawi, op.cit, hal114-115
*7 ibid, hal 115